- Presiden meluncurkan program 100 GWp PLTS pada 25 Agustus 2026: 80 GW tersebar, 20 GW terpusat, target tiga tahun.
- Tantangan terbesar bukan panel, melainkan jaringan PLN dan penciptaan permintaan (data center, PLTS terapung).
- Program ini satu paket dengan B50, RUEN 2026–2035, dan RUU EBET menuju NZE 2060.
Daftar Isi Artikel ▼
Pemerintah memasang taruhan surya terbesar dalam sejarah Indonesia. Pada 25 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan sekaligus groundbreaking program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt-peak (GWp) — disiarkan lewat kanal YouTube Sekretariat Presiden, dengan target yang tidak main-main: rampung dalam tiga tahun.
Angkanya perlu dibaca dengan kepala dingin. 100 GWp adalah kapasitas terpasang, bukan produksi riil harian — panel surya hanya berproduksi saat matahari bersinar. Namun sebagai sinyal kebijakan, peluncuran ini adalah momen paling konkret dalam rangkaian transisi energi 2026: dari B50 hingga RUEN. Berikut bedahnya.
Apa yang Diluncurkan: 100 GWp, 80 Tersebar dan 20 Terpusat
Rancangannya terbagi dua: 80 GW dibangun tersebar di berbagai daerah dan 20 GW terpusat dalam skala besar, menurut laporan Listrik Indonesia atas acara peluncuran. “Kita akan membangun 100 Gigawatt. Dan kita tidak main-main. Target kita adalah 100 Gigawatt dalam tiga tahun,” tegas Prabowo.
Dewan Energi Nasional (DEN) menambahkan lapisan strategi yang sering luput dari pemberitaan: pasokan raksasa butuh permintaan raksasa. DEN mendorong penciptaan permintaan (demand creation) lewat pusat data (data center) dan PLTS terapung — menyambungkan langsung ambisi surya dengan ledakan komputasi AI di koridor Batam–Johor. Logikanya rapi: beban listrik baru yang lapar energi dipasok energi bersih baru, bukan batu bara.
Ujian Jaringan PLN: Intermitensi Surya dan Kesiapan Off-Taker Tunggal
Di sinilah janji bertemu fisika. Surya bersifat intermiten — bergantung cuaca dan jam penyinaran — sehingga 100 GWp panel tidak berarti 100 GW daya setiap saat. PT PLN sebagai pembeli tunggal memegang kunci: memastikan tambahan pembangkit terserap dan terintegrasi ke sistem kelistrikan nasional tanpa mengganggu stabilitas grid.
Presiden secara khusus menantang Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo memastikan target terwujud hingga 2029 — dan sang dirut menjawab kesiapannya di forum yang sama. Tantangannya nyata: jaringan transmisi antarpulau, penyimpanan energi, dan fleksibilitas sistem harus dibangun seiring panel. Tanpa itu, GWp hanya menjadi angka di atas kertas. Pengalaman global menunjukkan negara yang berhasil bukan yang paling banyak memasang panel, melainkan yang paling siap jaringannya.
Konteks Transisi: B50, RUEN, dan UU EBET dalam Satu Tarikan Napas
Program surya ini tidak berdiri sendiri. Dalam tiga bulan terakhir, pemerintah merangkai paket transisi berlapis:
| Kebijakan | Status | Target |
|---|---|---|
| Mandatori B50 | Berlaku 1 Juli, diresmikan 9 Juli 2026 (Kepmen ESDM 257/2026) | Campuran 50% biodiesel sawit; pangkas impor solar ~18 juta kl |
| PLTS 100 GWp | Diluncurkan 25 Agustus 2026 | 100 GWp dalam 3 tahun |
| RUEN 2026–2035 | Ditargetkan rampung September 2026 via Perpres | Panduan pasokan, dekarbonisasi, investasi dekade |
| RUU EBET | Didorong September 2026 (Kementerian ESDM + METI) | Kepastian hukum dan investasi EBT |
Benang merahnya satu: NZE 2060, yang telah diratifikasi lewat UU 16/2016 atas Paris Agreement dan ditegaskan ulang dalam KEN (PP 40/2025). B50 mengurus sisi permintaan bahan bakar, surya mengurus sisi pasokan listrik, RUEN mengurus perencanaannya, dan UU EBET — bila disahkan — mengurus payung hukumnya. Untuk pertama kalinya dalam tahun-tahun terakhir, keempat roda itu berputar bersamaan.
Yang Perlu Dipantau: Tiga Penanda Keseriusan Program
Euforia peluncuran adalah bagian termudah. Tiga hal menentukan apakah 100 GWp menjadi transformasi atau sekadar seremoni.
Pertama, lelang dan kontrak nyata. Target tiga tahun berarti pengadaan dalam skala yang belum pernah terjadi — pantau pengumuman tender PLN dan penandatanganan PPA, bukan pidato. Kedua, transmisi dan penyimpanan. Tanpa super grid antarpulau dan baterai skala grid, panel di Nusa Tenggara tidak bisa menyalakan pabrik di Jawa. Ketiga, UU EBET. Tanpa kepastian tarif dan perizinan yang dikeluhkan investor selama ini, modal swasta menunggu di tepi lapangan.
SEMAKNA akan memantau ketiganya. Transisi energi tidak dimenangkan pada hari peluncuran — melainkan pada hari-hari berikutnya ketika kabel dibentangkan, baterai dipasang, dan undang-undang diketok.
Muhammad Salman Maulana
Jurnalis Lingkungan & Kebijakan Publik untuk SEMAKNA. Fokus pada konservasi hutan nusantara dan dinamika agraria.
Sumber & Metodologi Riset
SEMAKNA menjunjung tinggi transparansi data dan verifikasi independen.
- Diakses 14 September 2026
- Diakses 14 September 2026
- Diakses 14 September 2026
- Diakses 14 September 2026
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu program PLTS 100 GWp? ▼
Program pembangunan pembangkit surya total 100 gigawatt-peak yang diluncurkan Presiden Prabowo pada 25 Agustus 2026: 80 GW tersebar dan 20 GW terpusat, dengan target realisasi tiga tahun menuju NZE 2060.
Siapa yang menyerap listriknya? ▼
PT PLN sebagai pembeli tunggal (sole off-taker). Presiden menantang Dirut PLN memastikan target itu terwujud hingga 2029, dan kesiapan jaringan menjadi penentu karena sifat surya yang intermiten.
Bagaimana posisi program ini dalam kebijakan energi nasional? ▼
Ia berjalan bersama mandatori biodiesel B50 (berlaku 1 Juli 2026), penyusunan RUEN 2026–2035 yang ditargetkan rampung September 2026, dan dorongan pengesahan UU EBET — semuanya mengarah ke NZE 2060.