Lewati ke konten utama
Tautan disalin
Menjaga Daya Beli Kelas Menengah: Menavigasi Tekanan Biaya Hidup dan Lapangan Kerja Formal
EKONOMI SOSIAL

Menjaga Daya Beli Kelas Menengah: Menavigasi Tekanan Biaya Hidup dan Lapangan Kerja Formal

Kelesuan sektor manufaktur padat karya dan lonjakan biaya hidup wajib menguji ketahanan ekonomi kelas menengah perkotaan di tengah pergeseran menuju tenaga kerja informal.

Rizky Maulana
Rizky Maulana | 5 September 2025 | 8 menit baca
Baca penuh

Masyarakat pekerja komuter melintasi kawasan distrik bisnis pusat kota pada pagi hari. Foto: Dokumentasi Editorial SEMAKNA

Ringkasan Eksekutif · 30 Detik Baca
  • Data BPS mencatat populasi kelas menengah Indonesia menyusut dari 57,33 juta jiwa (21,45%) pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa (17,13%) pada 2024, di mana 9,48 juta orang terlempar ke kategori 'menuju kelas menengah'.
  • Deindustrialisasi dini menjadi biang keladi utama: kontribusi industri manufaktur terhadap PDB merosot dari 29% di era awal reformasi menjadi 18,6% saat ini, membatasi pasokan kontrak kerja formal bergaji stabil.
  • Kenaikan biaya hidup wajib (perumahan perkotaan, premi asuransi, pendidikan) tumbuh jauh melampaui kenaikan gaji nominal rata-rata, menggerus tabungan likuid dan daya ungkit konsumsi domestik.
Daftar Isi Artikel ▼

Dalam seluruh peta jalan pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045, narasi bonus demografi dan lompatan keluar dari perangkap pendapatan menengah (middle-income trap) selalu menempatkan kelompok kelas menengah sebagai motor penggerak utama. Merekalah segmen masyarakat yang menopang lebih dari separuh konsumsi agregat domestik, membeli rumah pertama, mencicil kendaraan, membiayai pendidikan tinggi generasi penerus, dan menjadi pembayar pajak penghasilan paling patuh melalui pemotongan rutin slip gaji bulanan.

Namun, telaah mendalam terhadap data statistik mutakhir menyajikan realitas yang berbanding terbalik dengan optimisme makroekonomi: populasi kelas menengah Indonesia sedang mengalami penyusutan struktural. Terjepit di antara kenaikan biaya hidup wajib yang melesat di kawasan perkotaan dan menyusutnya pasokan lapangan kerja formal padat karya, jutaan keluarga pekerja kini berada dalam status kerentanan ekonomi akut—hanya berjarak satu guncangan medis atau satu surat pemutusan hubungan kerja (PHK) dari batas jurang kemiskinan.


01. Anatomi Penyusutan Kelas Menengah: Data Empiris Susenas 2019–2024

Penurunan daya beli kelompok menengah bukan sekadar persepsi di linimasa media sosial; ia terdokumentasi secara gamblang dalam data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Berdasarkan klasifikasi Bank Dunia yang membagi lapisan masyarakat berdasarkan rasio pengeluaran terhadap Garis Kemiskinan (GK), komposisi masyarakat Indonesia terbagi menjadi lima kelompok: kelompok miskin (< 1 GK), rentan miskin (1–1,5 GK), menuju kelas menengah (aspiring middle class, 1,5–3,5 GK), kelas menengah (3,5–17 GK), dan kelas atas (> 17 GK).

Angka statistik membuktikan terjadinya pergeseran ke bawah (downward mobility) yang sangat masif:

  • Pada tahun 2019, populasi kelas menengah di Indonesia mencapai 57,33 juta jiwa atau setara 21,45% dari total penduduk.
  • Memasuki tahun 2024, jumlah tersebut merosot tajam menjadi 47,85 juta jiwa atau hanya menyisakan 17,13% dari total penduduk.

Artinya, dalam kurun waktu lima tahun, sebanyak 9,48 juta jiwa terlempar dari status kelas menengah. Sebagian besar dari mereka tidak jatuh langsung ke kategori miskin ekstrem berkat jaring bansos keluarga, melainkan terserap ke dalam kelompok aspiring middle class—kelompok yang secara ekonomi sangat rentan, memiliki bantalan tabungan likuid tipis, dan tidak memenuhi syarat menerima bantuan tunai bersyarat dari anggaran negara.

Penyusutan ini berdampak langsung pada pelemahan indeks penjualan ritel, perlambatan kredit konsumsi perbankan, serta merosotnya porsi tabungan rumah tangga dengan saldo di bawah Rp100 juta yang tergerus untuk menambal pengeluaran harian (eating into savings).


02. Dilema Deindustrialisasi Dini: Runtuhnya Pabrik dan Lonjakan Ekonomi Gig

Mengapa mesin penciptaan kelas menengah di Indonesia melambat? Jawaban strukturalnya bermuara pada fenomena deindustrialisasi dini (premature deindustrialization).

Dalam lintasan ekonomi pembangunan klasik, sebuah negara agraris mentransformasikan tenaga kerjanya ke sektor industri manufaktur pengolahan. Pabrik-pabrik padat karya menyerap tenaga kerja berpendidikan dasar dan menengah, melatih keterampilan teknis, serta memberikan kontrak kerja formal berjangka panjang yang dilengkapi jaminan hari tua, tunjangan kesehatan, dan kepastian upah lembur. Dari pabrik-pabrik inilah lahir generasi pertama kelas menengah perkotaan.

Namun di Indonesia, kontribusi sektor industri manufaktur pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami kemunduran prematur:

  1. Puncak Kejayaan: Pada tahun 2001–2002, manufaktur menyumbang hingga 29%–30% dari total PDB nasional.
  2. Kondisi Terkini: Sepanjang 2023–2024, pangsa manufaktur merosot ke kisaran 18,6%, level terendah dalam lebih dari tiga dekade.
  3. Tekanan Padat Karya: Subsektor padat karya tradisional seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, dan furnitur mengalami gelombang relokasi dan penutupan operasional akibat gempuran impor barang konsumsi murah ilegal serta kenaikan biaya logistik domestik.

Akibat menyusutnya kapasitas serap industri manufaktur formal, angkatan kerja baru terlempar ke sektor informal dan ekonomi berbasis aplikasi (gig economy). Data Ketenagakerjaan BPS menunjukkan proporsi pekerja informal di Indonesia kembali merangkak naik melampaui 59,17% (lebih dari 84 juta orang). Menjadi pengemudi transportasi daring, kurir logistik lepasan, atau pedagang skala mikro memang menyediakan bantalan pendapatan tunai harian, tetapi sektor-sektor ini tidak menyediakan jenjang karir terstruktur, tidak memiliki kontribusi pensiun pemberi kerja, serta nir-perlindungan pesangon saat pesanan aplikasi sepi.


03. Kompresi Biaya Hidup Wajib: Perumahan, Kesehatan, dan Inflasi Riil

Sering kali indikator inflasi umum (Headline CPI) yang dirilis pemerintah berada di kisaran moderat 2%–3% per tahun. Namun, angka agregat ini menyembunyikan realitas sesungguhnya yang dihadapi keluarga pekerja kelas menengah: inflasi biaya hidup wajib (mandatory non-discretionary inflation) melaju jauh lebih kencang daripada kenaikan upah nominal rata-rata.

Tiga komponen utama yang mengompresi arus kas bulanan kelas menengah perkotaan meliputi:

1. Keterjangkauan Hunian (Housing Affordability)

Rasio harga rumah terhadap pendapatan tahunan (Price-to-Income Ratio) di kawasan aglomerasi Jabodetabek, Surabaya, dan Bandung kini telah menembus angka 10x hingga 14x, jauh di atas batas sehat internasional (3x–5x). Keterbatasan pasokan perumahan vertikal terjangkau di pusat kota memaksa keluarga muda membeli rumah di kawasan pinggiran terluar, yang pada gilirannya memicu lonjakan biaya transportasi harian dan pemborosan waktu tempuh hingga 3–4 jam per hari.

2. Beban Layanan Kesehatan dan Pendidikan Berkualitas

Meskipun program jaminan kesehatan nasional BPJS Kesehatan telah mencakup ratusan juta warga, keterbatasan antrean dan rujukan berjenjang mendorong kelas menengah tetap menyisihkan premi asuransi kesehatan swasta mandiri atau membayar out-of-pocket untuk obat-obatan tertentu. Di sektor pendidikan, inflasi uang pangkal sekolah swasta berkualitas dan perguruan tinggi rata-rata naik 8%–12% per tahun, jauh di atas laju penyesuaian Upah Minimum Provinsi (UMP).

3. Jebakan Fiskal Lapisan Bawah

Pekerja formal kelas menengah adalah segmen yang pemotongan pajaknya paling tertib (PPh 21 melalui sistem withholding tax), pembayaran iuran jaminan sosialnya paling patuh, serta konsumen barang kena PPN 11%–12%. Namun, mereka berada di luar target penerima subsidi energi tertarget, Program Indonesia Pintar (PIP), maupun bantuan pangan pemerintah. Mereka membiayai penerimaan negara tanpa menikmati jaring pengaman sosial yang memadai saat krisis menerpa.


04. Tabel Matriks Stratifikasi Ekonomi: Komparasi Kerentanan Rumah Tangga

Untuk memahami posisi terjepit kelas menengah, tabel di bawah membandingkan profil ekonomi kelompok masyarakat Indonesia berdasarkan batas pengeluaran, kepemilikan jaring pengaman, dan kerentanan guncangan finansial:

Lapisan EkonomiStandar Pengeluaran / Kapita / BulanPorsi Populasi (2024)Akses Jaring Pengaman BansosKarakteristik Pekerjaan UtamaKetahanan Finansial Darurat
Kelompok Miskin & Rentan< 1,5 Garis Kemiskinan (< Rp870 rb)~16,2%Prioritas Utama (PKH, BPNT, PBI BPJS, BLT El Niño)Informal subsisten, buruh tani lepas, pedagang kelilingSangat rentan; sepenuhnya bergantung pada transfer fiskal negara
Menuju Kelas Menengah (Aspiring)1,5 – 3,5 GK (Rp870 rb – Rp2,04 jt)~49,2%Sangat terbatas (bantuan insidental, subsidi energi umum)Buruh industri informal, ekonomi gig, staf administratif pemulaRentan; tabungan habis dalam tempo 1–2 bulan jika terjadi PHK
Kelas Menengah Mandiri3,5 – 17 GK (Rp2,04 jt – Rp9,9 jt)~17,1%Nol Persen (Bebas bansos, pembayar PPh 21 & PPN penuh)Karyawan tetap formal, profesional, manajerial, wirausaha UMKMModerat; memiliki aset tetap (KPR/kendaraan) namun likuiditas tipis
Kelas Atas (Upper Class)> 17 GK (> Rp9,9 jt / kapita)~0,5%Tidak memerlukan; memanfaatkan instrumen tax incentivePemilik modal, eksekutif puncak C-level, investor portofolioSangat kokoh; terdiversifikasi lintas kelas aset dan mata uang global

05. Agenda Kebijakan Penyelamatan: Peta Jalan Menuju Pertumbuhan Inklusif

Membiarkan kelas menengah terus tergerus bukan hanya menghambat target pertumbuhan ekonomi 5%–7%, melainkan mengancam kohesi sosial dan fondasi demokrasi bangsa. Dibutuhkan bauran kebijakan lintas sektoral yang berani dan terkoordinasi:

  1. Reindustrialisasi Terfokus Bernilai Tambah Tinggi: Pemerintah harus merevitalisasi rantai pasok industri padat modal sekaligus ramah padat karya menengah (mid-tech manufacturing). Kebijakan hilirisasi tidak boleh berhenti pada pemurnian bijih mentah feronikel yang menyerap sedikit tenaga kerja, melainkan didorong hingga ke perakitan komponen presisi, permesinan pertanian, perakitan elektronik konsumen, dan industri kimia hilir.
  2. Penyediaan Hunian Terintegrasi Transportasi Publik (TOD): Pembangunan perumahan rakyat bersubsidi harus bergeser dari model tapak di pelosok pinggiran kota menjadi rusunawa/rusunami berorientasi transit (Transit-Oriented Development) di atas stasiun kereta komuter dan terminal busway. Menghemat biaya transportasi harian sebesar 20%–25% adalah bentuk injeksi daya beli paling instan bagi kelas pekerja.
  3. Reformasi Ambang Batas Fiskal Berkeadilan: Menyesuaikan batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) secara berkala mengikuti laju inflasi kota-kota besar serta memberikan fasilitas pengurangan pajak (tax deductibles) untuk biaya pendidikan tinggi dan cicilan KPR pertama.
  4. Perluasan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan bagi Pekerja Informal: Memfasilitasi skema iuran jaminan pensiun dan jaminan kehilangan pekerjaan (JKP) yang terjangkau dan fleksibel bagi pekerja ekonomi gig dan lepas, agar mobilitas sosial mereka tidak langsung runtuh saat terjadi perlambatan siklus bisnis.

Menyelamatkan kelas menengah adalah menyelamatkan masa depan republik. Tanpa basis kelas pekerja yang berdaya, terdidik, dan berkecukupan, impian mewujudkan Indonesia sebagai raksasa ekonomi dunia berpendapatan tinggi pada satu abad kemerdekaan akan tetap menjadi fatamorgana di atas kertas.

Rizky Maulana
Ditulis oleh

Rizky Maulana

Jurnalis Lingkungan & Kebijakan Publik untuk SEMAKNA. Fokus pada konservasi hutan nusantara dan dinamika agraria.

Sumber & Metodologi Riset

SEMAKNA menjunjung tinggi transparansi data dan verifikasi independen.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mengapa penurunan populasi kelas menengah berbahaya bagi perekonomian nasional? ▼

Konsumsi rumah tangga menopang lebih dari 53% PDB Indonesia. Ketika kelas menengah menyusut dan menahan belanja, penerimaan pajak penghasilan dan PPN melemah, pertumbuhan sektor ritel dan properti melambat, serta target pertumbuhan ekonomi 5-6% per tahun sulit tercapai.

Apa definisi resmi kelas menengah menurut standar Badan Pusat Statistik dan Bank Dunia? ▼

BPS dan Bank Dunia mengelompokkan kelas menengah sebagai individu dengan pengeluaran bulanan antara 3,5 hingga 17 kali lipat Garis Kemiskinan nasional (setara Rp2,04 juta hingga Rp9,9 juta per kapita per bulan pada basis harga terkini).

Apa perbedaan mendasar antara deindustrialisasi alami dan deindustrialisasi dini? ▼

Deindustrialisasi alami terjadi pada negara maju ketika produktivitas manufaktur sangat matang dan ekonomi beralih secara organik ke sektor jasa bernilai tambah tinggi. Sebaliknya, deindustrialisasi dini terjadi di negara berkembang ketika kontribusi manufaktur turun sebelum pendapatan per kapita mencapai level negara maju, memaksa tenaga kerja beralih ke sektor informal berproduktivitas rendah.

Hak Cipta © 2026 SEMAKNA. Dilindungi Undang-Undang. Laporkan koreksi atau hak jawab →

Topik Paling Dicari

Buka Semua Arsip →
Gunakan panah ↑ ↓ & Enter untuk membuka Jelajahi Indeks Artikel
SEMAKNA ● Open Knowledge

Inisiatif Pengetahuan Terbuka untuk Indonesia

Semakna hadir tanpa dinding berbayar (paywall), tanpa iklan agresif, dan tanpa algoritma pemecah perhatian. Seluruh liputan mendalam, data riset, dan esai kami bebas diakses demi mencerdaskan nalar publik.

Buletin Terbuka Mingguan

Dapatkan ringkasan esai dan analisis pilihan redaksi setiap akhir pekan langsung di surel Anda — gratis tanpa biaya.

Dukungan Sukarela (Patron Publik) Opsional

Bagi individu atau lembaga yang ingin mendukung keberlanjutan riset jurnalisme independen tanpa intervensi komersial, program dukungan sukarela kami terbuka.

SEMAKNA